Pelatihan Internet

Sekarang say lagi mengisi pelatihan internet, di Politeknik Harapan Bersama Tegal

Marquee Text - http://www.marqueetextlive.com

free photo rating

AGAINS..!, MENJADI FASILITATOR RELAWAN PMI

Untuk yang kesekian kalinya menjadi fasilitator pelatihan PMI bagi saya adalah sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan, terlebih peserta pelatihan kali ini adalah para calon relawan PMI yang tergabung dalam TSR PMI dan para pengurus PMI Kecamatan se-Kabupaten Sumedang. Kegiatan ini merupakan sebuah orientasi bagi para calon relawan TSR yang terdiri dari Perawat, Guru, Tokoh masyarakat, pemuda dan para pengurus PMI yang notabene mereka baru mengenal PMI yang kemudian ingin bergabung dengan PMI. Bertempat di ruangan aula Markas PMI Kabupaten Sumedang, tepatnya tanggal 5 s.d 7 Mei tahun 2012 kegiatan ini dilaksanakan. Acara dilaksanakan selama tiga hari dengan perhitungan setiap hari sekitar 6 sampai dengan 7 perwakilan dari tiap kecamatan sehingga selama tiga hari tersebut seluruh relawan TSR dan pengurus PMI kecamatan semuanya bisa mengikuti dikarenakan dengan keterbatasan tempat ruangan.

Yang paling menarik dari orientasi ini adalah setelah melihat CV profile dari para peserta kegiatan, ternyata hampir 70% peserta berpendidikan D3 / S1 serta beberapa orang S2. Hal ini menjadi sangat menarik bagi saya pribadi, karena saya meyakini sekali bahwa makin berat  tekanan mental yang diberikan maka sayapun semakin tertantang untuk bisa menampilkan yang terbaik sebagai seorang fasilitator. Metode yang digunakan serta bahasa yang dipergunakanpun pastinya akan sangat berbeda dari biasanya. Dengan sedikit ketenangan dan menyiapkan bahan-bahan materi sesuai dengan yang akan disampaikan maka akhirnyapun Alhamdulillah bisa dilaksanakan juga.

Adahal yang menarik dalam orientasi ini, yaitu ketika saya melihat dari hari pertama sampai hari ketiga karena tiap hari berbeda pesertanya, setelah dilihat-lihat ternyata salah satu pesertanya terdapat mantan guru saya yang dulu pernah mengajar di SD, di SMP dan SMK semuanya ada., waduh….!! Pikiran saya tidak karuan kemana-mana. Saya berfikir dengan sedikit ketenangan apakah ini memang kuasa Allah yang menyatakan bahwa suatu saat nanti kita tahu dengan kita, ada saatnya kita berada dibawah dan ada kalanya kita berada diatas. Dengan keyakinan itu, sayapun mencoba untuk bersikap profesioanl dan mencoba untuk menyapa guru-guru saya ini dengan penuh rasa hormat dan dengan kerendahan hati tanpa menyinggung perasaan mantan guru- guru saya ini, karena bagaimanapun saya merasa bahwa saya tidak akan bisa berdiri didepan mereka sekarang ini tanpa sebelunya adanya bimbingan dan ajaran yang telah mereka berikan pada saat sekolah dulu. Terimakasih bapak / ibu, karena kalianlah sekarang ini saya berada didepan sekarang, Allah Maha Besar…!!

Sebelum memulai seperti biasa saya selalu memperkenalkan diri dulu, karena bagaimanapun perkenalan singkat harus selalu dilakukan untuk membangun sebuah komunikasi awal dengan para peserta orientasi karena disinilah modal awal dari berhasil atau tidaknya presentasi yang akan disampaikan dapat diterima oleh peserta. Kebetulan dalam pelatihan ini saya membawakan materi tentang Manajemen Relawan PMI, sebuah materi yang boleh dibilang agak sedikit berat untuk disampaikan mengingat pasti akan banyak sekali pertanyaaan yang akan keluar dari para peserta pada sesi tanya jawab.Untuk kegiatan ini ada tiga(3) materi pokok yang disampaikan, diantaranya Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional disampaikan oleh sdra. Budi Turmudi ( KSR Unit Markas PMI Kab.Sumedang), Palang MerahIndonesiatermasuk Renstra oleh dr.H. wan Suwandhi ( Wkl.Ketua PMI Kab.Sumedang), manajemen Relawan oleh saya sendiri, dan untuk harapan serta norma dan kesimpulan akhir difasilitasi oleh Bpk.Drs. Dedi Setiadi (Pengurus PMI Kab.Sumedang) selaku wakil ketua pelaksana kegiatan

Kegiatan ini dimulai pada pukul 8.00 pagi dan berakhir pada pukul 16.00 sore, sehingga kegiatan dilaksanakan seharian penuh dengan jeda istirahat pada pukul 12.00 untuk sholiskan. Banyak hal saya kira yang bisa didapatkan oleh para peserta orientasi pada kegiatan ini, diantaranya :

  1. Peserta kegiatan sudah menjalankan kewajibanya sebagai relawan PMI yaitu mengikuti Orientasi sebagai syarat untuk menjadi bagian dari Palang MerahIndonesia.
  2. Peserta dapat mengetahui lebih jauh tentang gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional sehingga dalam melaksanakan tugasnya sebagai relawan, peserta sudah mendapatkan acuan yang jelas mengenai apayang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.
  3. Adanya sebuah kesepakatan dan komitmen bersama dalam mengembangkan organisasi PMI khususnya PMI Kabupaten Sumedang sehingga keberlangsungan organisasi dapat berkembang baik itu dalam pelayanan maupun kinerja.

Dalam kesempatan inipun saya masih ingat pada saat itu keluar kata – kata dari ketua PMI Kabupaten Sumedang yang mengatakan bahwa kurang lebih seperti ini “ Anda dan kita semua ini adalah relawan PMI, dimana tugas kita adalah mengabdikan diri di Palang Merah sebagai panggilan rasa jiwa kemanusiaan kita. Banggalah menjadi relawan, karena semua yang kita lakukan sekarang akan menjadi sebuah amal ibadah kita dikemudian hari kelak ” Kata – kata membangun dan memotivasi bagi kita semua, tentunya kata – kata tersebut dapat dijadikan sebagai penyemangat kita sebagai relawan.

Belajar dan belajar menjadi sebuah keharusan yang harus dilakukan demi memperbaiki setiap apapun yang dikerjakan, selama menjadi fasilitator pelatihan inipun saya terus belajar bagiamana caranya untuk menutupi setiap kekurangan yang dilakukan. Mungkin semua fasilitator akan banyak yang setuju manakala salah satu hal kejadian yang terberat dalam memfasilitasi adalah ketika menjadi seorang fasilitator dimana pesertanya adalhorang – orang yang umurnya sudah tua daripada kita, terlebih orang yang kita fasilitasi adalah orang – orang yang dulunya pernah menjadi seorang senior, guru, pembimbing, orang tua, dan lain sebagainya sehingga kita akan sedikit merasa canggung. Tapi dengan ketenangan serta bersikap professional dengan tanpa merendahkan mereka saya yakin kita pasti akan bisa menjadi seorang fasilitator yang baik, amin…!!

Selamat untuk para Relawan TSR dan pengurus PMI Kecamatan se-Kab.Sumedang yang telah mengikuti orientasi, mudah-mudahan kita menjadi seorang relawan yang dapat mengabdikan diri kita demi kemanusiaan, Salam kemanusiaan…,

Fenomena Dosen dan Mahasiswa

Terinspirasi ketika melihat beberapa dosen mengajar didepan kelas perkuliahan, ternyata beraneka ragam cara dan metode mengajar dosen tersebut dalam memberikan materi perkuliahan. Dari sekian banyak mahasiswa yang diajar oleh dosen tersebut ternyata sama beranekaragamnya tingkat pemahaman dari mahasiswa tersebut. Saya teringat ketika dalam beberapa sesi pemberian mata kuliah oleh dosen ketika saya bertanya kepada teman sekelas apakah teman saya mengerti tentang materi yang disampaikan dosen tersebut ? dan ternyata beraneka ragam jawabannya, ada yang mengatakan mengerti dan paham, ada juga yang mengatakan sedikit mengerti, dan ada juga yang mengatakan tidak mengerti sama sekali padahal dosen telah mengajar dengan baik dan profesional. Hmm… memang hal ini menjadi fenomena bagi mahasiswa sekarang ini, akan tetapi tidak bisa juga kita men-generalisir atas apa yang terjadi pada mahasiswa bahwa mahasiswa tersebut pintar atau tidak pintar, cerdas atau tidak cerdas dan lain sebagainya.

Timbul pertanyaan dalam diri saya pada saat itu, kenapa ya mahasiswa kok begitu sulitnya memahami apa yang disampaikan oleh dosen padahal dosen tersebut mengajar dengan begitu luwesnya atas materi yang disampaikan. Tapi memang jujur juga ada kalanya saya tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh dosen padahal dosen memberikan materi tersebut dengan begitu luwes dan bagusnya dalam memberikan materi, nah lho…. Apa yang terjadi saudara – saudara…? perlu dipelajari dan diteliti nih. Selain permasalahan tersebut juga terkadang dalam proses pemberian nilai terdapat beberapa dosen yang memberikan nilai dengan cara men-generalisir kemampuan mahasiswa, contohnya ketika dosen tersebut memberikan nilai di satu kelas yang berbeda maka dosen tersbut memberikan hampir semua mahasiswa dikelas itu nilai A semua, atau B semua, atau malahan juga C semua. Kasus ini memang terjadi disetiap perguruan tinggi, ketika kejadian ini terjadi pada saya, sayapun mempertanyakan kepada dosen yang bersangkutan kenapa nilainya sama semua, apa memang tidak ada mahasiswa yang lebih cerdas ataupun kemampuannya pas – pasan masa semuanya sama nilainya, hmmm…. Saya sampai tertawa saat itu ketika tahu ada kejadian yang seperti ini.

Dari beberapa contoh permasalahan yang terjadi dalam setiap perkuliahan tersebut, akhirnya saya menemukan beberapa permasalahan yang terjadi kenapa bisa terjadi seperti itu hampir diseluruh dunia perkuliahan di Indonesia meskipun saya hanya membandingkan beberapa sampel perguruan tinggi yang diketahui karena memang terdapat beberapa teman saya yang kuliah disana baik S1 maupun yang S2, diantaranya :

  1. Dosen terkadang sering memberikan materi yang terlalu baku dalam buku referensi yang dipegangnya ataupun slide presentasi materi kuliah yang disampaikan, sehingga tidak berkembang.
  2. Dosen sering mengganggap bahwa mereka adalah yang paling pintar dalam menguasai materi perkuliahan, padahal banyak juga mahasiswa yang lebih menguasai dan memahami terhadap materi yang disampaikan, imbasnya adalah dengan sedikit egois dosen selalu beragumen tidak mau kalah dengan mahasiswa atas pengetahuan yang dimilikinya.
  3. Dosen memberikan materi yang terlalu teoritis, hal ini menjadikan mahasiswa kurang memahami atas apa yang disampaikan, sampai berbusapun dosen bicara tanpa adanya penerapan dalam teori yang disampaikan saya jamin mahasiswa tidak akan mengerti, apabila tidak percaya coba deh lakukan penelitian tentang hal ini saya jamin hasil hipotesanya akan sama dengan pendapat saya.
  4. Banyak dosen menyampaikan materi perkuliahan dengan bahasa yang rumit dan susah dimengerti oleh mahasiswa, harusnya materi itu disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti jangan sampai kita belum tahu apa – apa tentang materi yang disampaikan dosen malahan menyampaikan materi dengan bahasa yang rumit, apalagi dengan memakai istilah- istilah ilmiah supaya terlihat keren dan professional padahal mahasiswanya tidak mengerti, mahasiswa ngangguk – ngangguk tapi tidak tau dan tidak paham atas apa yang disampaikan, hhmm…., apabila tidak percaya silahkan tanyakan kepada mahasiswa yang kita beri  materi kuliah dengan menggunakan metode seperti itu, apakah mereka paham dengan istilah – istilah yang keren itu atau dengan bahasa yang sederhana ? pemakaian istilah perlu tapi harus dijabarkan dengan bahasa yang simple.
  5. Dosen selalu mengatakan dan menekankan “ Anda disini bersaing dan berkompetisi maka anda harus bisa untuk berkompetisi dan bersaing menjadi yang terbaik”. Kata – kata itu memang benar bahwa kita dalam hal apapun menjadi seorang kompetitor, tapi harus dipahami juga bahwa memberikan doktrin ini harus tepat pemberiannya, imbasnya hal ini menjadikan mahasiswa hanya berkonsentrasi kepada sebuah hasil dan nilai akhir bahwa saya nilainya harus A semua, atau saya harus menjadi orang terpintar di kelas dan dikampus. Kalau mahasiswa sudah ter-mainset seperti itu maka saya yakin nantinya mahasiswa itu hanya mencari sebuah kepintaran bukan sebuah kecerdasan memahami dan menerapkan setiap mata kuliah yang diberikan. Saya sendiri salut kepada teman- teman kuliah yang nilainya pas – pasan dengan IPK yang tidak terlalu besar tapi dia berhasil menerapkan pengetahuan di kuliahnya dalam setiap pekerjaan dan akhirnya teman – teman saya ini sudah berhasil menjadi orang dipercaya oleh perusahaan tempat dia bekerja sekarang.
  6. Dosen selalu tidak memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memberikan sebuah argumen sesuai dengan tingkat pengetahuannya, saya kira dosen janganlah takut untuk menerima setiap pendapat yang berbeda dari mahasiswa. Kadang dosen dengan keegoannya karena takut dianggap tidak kompeten sering tidak memberikan kesempatan kepada mahasiswa mengutarakan pendapat, malahan terkadang dosen tersebut menyalahkan pendapat mahasiswanya yang padahal pendapat mahasiswa itu tadilah yang benar. Harusnya dosen jangan takut kalau pengetahuannya sedikit dibawah mahasiswa, padahal kita sebagai mahasiswa akan merasa takjub kepada dosen yang bersangkutan sudah mengakui kebenaran pendapat mahasiswa dan jangan heran apabila mahasiswa sering mengidolakan dosen tersebut karena menggunakan metode sharing. Ngak percaya…? Silahkan buktikan apabila saya salah, cobalah untuk menanyakan hal tersebut kepada mahasiswa dikelas.
  7. Adanya perbedaan dosen dalam mengajar memberikan materi perkuliahan, hal ini menimbulkan kecemburuan terhadap mahasiswa yang dibedakan. Pembagian kelas berdasarkan kemampuan patokan IP terbesar menurut saya kurang tepat terlebih dengan memampangkan dan memperlihatkanb besar IP yang diperoleh mahasiswa di papan pengumuman, sungguh kalau bapak dan ibu dosen tidak mengetahui bahwa sebenarnya terjadi sebuah tekanan psikologis yang berat bagi mahasiswa yang nilai IPnya pas – pasan, mana bisa mahasiswa berkonsentrasi dalam berkuliah menerima materi tetapi diluar itu tekanan psikologis menjadi hambatannya. Hal ini terbukti dengan sistem perangkingan yang diterapkan hampir semua mahasiswa tersebut prestasinya stagna malahan terjadi penurunan. Dosen tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi, miris sekali apa yang dilontarkan oleh mahasiswa ini, mereka pernah mengatakan kata – kata kepada saya “ Kang kita ini adalah orang yang disisihkan, buat apa kita meningkatkan prestasi ditambah lagi dengan adanya perbedaan dosen dalam mengajar, kita juga ingin seperti kelas lain kang, kapan kita  maju kalo kita  gini terus ”, inilah mungkin hal yang tidak bisa dihindari, mungkin dalam hal ini dosen harus mempunyai formula solusi lain yang lebih tepat terhadap permasalahan ini. Jangan sampai terdapat anggapan dengan tujuan supaya mahasiswa itu berpikir untuk lebih baik menggunakan cara ini, tetapi kita melupakan faktor hal ekternal lain selain sebuah nilai dan prestasi. Sebagai patokan apabila tidak percaya, kita lihat saja grafik perbandingan tingkat peningkatan prestasi terhadap kelas yang dipisahkan tadi, saya yakin tetap dan stagna malahan terdapat penurunan, apabila tidak percaya analisis lebih lanjut tentang permasalahan ini dan tanyakan satu persatu kepada mahasiswa yang bersangkutan.
  8. Dosen sering meremehkan kemampuan mahasiswa dan tidak meng-aprecciate (menghargai) hal yang dilakukan mahasiswa sekecil apapun apabila mahasiswa tersebut menemukan solusi hal yang baru dalam mata kuliah tersebut, hal ini terjadi apakah karena memang dosen tersebut pintar atau tidak mau ada orang lain yang lebih baik dari dirinya. Terkadang dosen mengatakan “ Wah… pekerjaan apa ini ? kok buatan anda seperti anak SD “, atau “ Anda mengcopy dari orang lain ya, maaf anda nilainya C ”, hmm… padahal mahasiswa sudah membuat pekerjaan tersebut dengan kerja keras sampai – sampai tidak tidur semalaman. Akhirnya kata – katapun terlontar dari mahasiswa seperti ini “ Dosen teh teu bisa ngabedakeun mana mahasiswa mana dosen ! nagarana ge mahasiswa diajar keneh komo ieu materi anyar, lamun teu nyieun coding anyar paling bisana modifikasi nu tos aya pa, kita teh mahasiswa lain dosen seperti bapa nu S2..” artinya kira – kira seperti ini “ Dosen tuh tidak bisa membedakan mana mahasiswa mana dosen ! namanya juga mahasiswa masih belajar apalagi ini materi baru, kalo tidak bisa membuat koding baru paling juga bisanya memodifikasi yang sudah ada pak, kita itu mahasiswa bukan dosen seperti bapa yang sudah S2..”. Ternyata tidak satu atau dua orang mahasiswa yang berkata seperti itu, kita percaya atau tidak ternyata hampir seluruh mahasiswa yang diberikan materi kuliah itu mengatakan hal yang sama, hal ini tidak bisa dipungkiri meskipun kita mau menepis pendapat ini, silahkan menanyakan langsung kepada mahasiswa yang bersangkutan, saya jamin hampir semuanya akan mengatakan hal yang sama.

Fakta – fakta terhadap fenomena ini tidak bisa dipungkiri ada disetiap bangku perkuliahan, perguruan tinggi manapun akan mengalami hal yang serupa. Yang harus bisa kita lakukan adalah mencoba untuk menemukan sebuah solusi yang tepat yang dapat dilakukan dan diterapkan agar tidak terjadi hal – hal yang dikemukkan diatas dengan cara meminimalisirnya. Sinergi antara tujuan kampus dan dosen serta mahasiswa menjadi aspek dalam meraih keberhasilan sistem pendidikan perkuliahan, bermanfaat untuk kampus dan dosen, serta mahasiswa yang dalam hal ini sebagai user kampus untuk mencari pengetahuan. Menurut saya tidaklah akan berhasil sebuah perguruan tinggi apabila hanya berorientasi pada sebuah hasil, contohnya akreditasi A, Standar Internasional, Standar ISO, ataupun kampus rangking terbaik dunia, dan lain sebagainya apabila sinergi antara lembaga, dosen dan mahasiswa serta sistem kultur yang diterapkan tidak adanya sebuah  proses simbiosis mutualisme. Jangan takut untuk mengakui sebuah hal yang baru, saling menghargai, saling mengedepankan peningkatan ilmu pengetahuan bukan mengedepankan keegoisan tidak mau kalah.

Saya teringat dengan kata- kata dosen saya yang sangat saya kagumi bapak Drs.Dady Mulyadi, MM, beliau mengatakan sebenarnya proses pendidikan itu tidak akan berhasil apabila salah satu elemen dari 4 (empat)  faktor keberhasilan pendidikan yaitu Visi Misi kampus, Dosen (pengajar), Mahasiswa, dan Sistem (Kultur) kampus tidak saling mendukung dan saling berseberangan. Kata – kata yang sangat visioner menurut saya meskipun kata – kata itu keluar menurut pribadinya, itulah memang yang harus dilakukan sekarang oleh kebanyakan perguruan tinggi atau kampus di seluruh Indonesia. Sebuah nilai memang menjadi patokan value dalam mendapatkan sebuah pengakuan, tetapi terkadang kita melupakan sebuah proses dan pemahaman akan ilmu yang diterima. Buat apa pintar tapi kalau tidak cerdas, cerdas tanpa berilmu akan salah jalan, tetapi pilihlah cerdas dan berilmu dan saya meyakini betul bahwa itu adalah yang semua orang ingin miliki. Tidak ada yang nomor satu didunia ini, ada orang yang lebih pintar dari kita, ada pula orang yang berada dibawah kita, jadilah orang yang selalu menghargai dan mengayomi terhadap sesama.

Kata Inspiratif yang selalu saya ingat,

Dalam setiap kehidupan terdiri dari beberapa pilihan, setiap pilihan pasti mempunyai resiko yang harus dihadapi, maka siapkanlah diri kita untuk menerima resiko itu, dengan keyakinan dan kerja keras setiap resiko pasti akan bisa kita hadapi. (Drs. Dady Mulyadi, MM – Dosen STMIK Sumedang).

Dengan tidak bermaksud menggurui kepada para dosen yang saya hormati, saya memohon maaf apabila kata – kata saya tidak berkenan tapi memang itulah hal yang tidak bisa kita pungkiri terjadi disekitar kita dunia perkuliahan. Mudah – mudahan menjadi sebuah pembelajaran untuk saya sebagai mantan mahasiswa dan para dosen sebagai agen pembelajaran di dunia kampus dalam meningkatkan mutu pendidikan kita. Saya meyakini dengan sepenuh hati bahwa tidak seluruhnya dosen berprilaku seperti yang telah dikemukakan diatas, setiap dosen pasti sudah melakukan hal yang benar dan profesional dalam memberikan ilmunya kepada mahasiswa di perkuliahan. Sungguh hal yang harus di dihargai dan dibanggakan dan saya sendiripun bangga dengan bapak/ ibu dosen yang telah memberikan ilmunya kepada kita semua sebagai mahasiswa. Semoga bapak/ibu semua diberikan ridzki dan balasan yang setimpal oleh Allah SWT atas kebaikan dan ilmu yang telah diberikan, amin….! JAYALAH DOSEN INDONESIA…! KITA BANGGA DENGAN BAPAK / IBU SEMUA.

 

Referensi:

1.    PP NO 19 TAHUN 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;

2.   PP No.37 Tahun 2009 tentang Dosen;

3.   UU No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Belajar Menjadi Calon Guru Berkompeten

Pengalaman yang sampai sekarang tidak pernah dilupakan dan penasaran akan hal itu adalah ketika pertama kali ditawari untuk menjadi seorang guru, terlintas dalam pikiran saya apa memang saya ini pantas untuk bisa menjadi seorang Guru yang benar – benar memiliki jiwa sebagai seorang Guru. Pertanyaan pertama adalah “ Guru itu seperti apa?, tugas seorang guru itu apa aja?, yang paling menjadi PR sampai sekarang adalah sebenarnya untuk menjadi seorang guru itu kita harus memiliki kompetensi yang bagaimana dan lain sebagainya? “. Tentunya hal ini akan menjadi sebuah pertanyaan mendasar bagi para profesional lulusan perguruan tinggi yang akademiknya bukan dari jurusan pendidikan, contohnya saja saya adalah lulusan dari jurusan Teknik Informatika yang notabene adalah pendidikan yang diarahkan pada bidang tertentu selain pendidikan.

Wah…. Pekerjaan yang memang berat ya apabila kita mengerjakan sesuatu yang bukan dibidang kita tanpa mengetahui pengetahuan dasarnya, memang dalam pelaksanaannya pada awal – awal akan mengalami sebuah masa adaptasi yang sangat agak berat tapi dengan kerja keras mempelajarinya pasti akan bisa. Saya teringat dengan kata – kata seorang guru yang sangat saya hormati namanya Bpk Dadan salah seorang Guru dari SMK Ma’arif 2 Sumedang beliau mengatakan “meskipun kita bukan dari pendidikan tapi kalo kita mengerti dan memahami akan bidang itu pasti akan bisa, belajarlah sambil berjalan kita pasti paham dan bisa”, sebuah kata – kata motivatif yang selalu saya ingat sampai sekarang, hatur nuhun pa Dadan.

Menjadi Guru orang bilang katanya susah – susah gampang, memang benar juga sih… dulu waktu sekolah memang saya selalu bertanya dalam hati apa memang tidak cape Guru tuh, setiap hari harus mengajar bicara didepan kelas. Memang benar juga orang bilang katanya guru itu adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa, setuju banget…!

Setelah mencari – cari apa itu Guru, maka sayapun mulai sedikit memahami apa itu arti guru ya… meskipun dengan keterbatasan karena mempelajari dan memahaminya secara otodidak via browsing internet. Mungkin sedikit share dengan pembaca semua khususnya untuk temen- temen yang bukan basicnya dari pendidikan untuk dapat memahami sedikit mengenai guru itu apa dan seperti apa tugasnya. Jujur, he….! kalau ada kekurangan tolong dikoreksi ya…. terlebih kepada temen- temen yang memang basicnya dari keguruan dan pendidikan mungkin lebih tahu, ok! ditunggu ya..,

APA DAN SIAPAKAH GURU ITU…?

Secara garis besar katanya menurut UU No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen didalamnya mengatakan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Maka dengan demikian berarti guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai menengah dan pendidikan anak usia dini. Profesional ini mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu  Nah… tidak mengherankan kalo guru sekarang ini disebut juga sebagai agen pembelajaran atau (learning agent) artinya peran guru ini adalah antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.

INGAT..!Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Yang paling harus diperhatikan oleh kita bahwa sekarang ini kualifikasi untuk menjadi Guru adalah harus S1 atau D4 untuk semua jenjang pendidikan sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya, khusus untuk SD/MI harus S1atau D4 PGSD/PGMI, itu semua katanya menurut UU loh….!

ALL ABOUT  KOMPETENSI GURU…!

Kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yang saya maksud adalah kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan profesi, diantaranya :

  1. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik.
  2. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.
  3. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam, dan
  4. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Waduh, kalau di pikir – pikir memang standar untuk menjadi seorang guru itu banyak sekali syaratnya, mulai dari kualifikasi pendidikan sampai dengan tuntutan kompetensi yang harus dimiliki. Untuk lebih jelasnya mengenai kompetensi guru itu seperti apa, didalam Permendiknas No.16 tahun 2007 mengenai standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru serta PP No.74 Tahun 2008 tentang Guru bahwa Standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional dimana keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.

Lanjut lagi ya…, Standar kompetensi guru ini mencakup kompetensi inti guru yang dikembangkan menjadi kompetensi guru PAUD/TK/RA, guru kelas SD/MI, dan guru mata pelajaran pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Sebagai bahan pengetahuan saya tuliskan secara garis besar standar kompetensi inti dari tiap satuan pandidikan, diantaranya yaitu :

Kompetensi Pedagogik

  1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.
  2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
  3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.
  4. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik.
  5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik.
  6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
  7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
  8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
  9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
  10. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

Kompetensi Kepribadian

  1. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
  2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
  3. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
  4. Menunjukkan etos kerja, tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.
  5. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Kompetensi Sosial

  1. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
  2. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
  3. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.
  4. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

 

Kompetensi Profesional

  1. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.
  2. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.
  3. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
  4. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.
  5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

Melihat dari kompetensi inti seorang guru tentunya kita dituntut untuk bisa memilikinya apabila ingin menjadi seorang guru yang sesuai dengan yang diharapkan. Guru adalah sebuah profesi yang sangatlah vital dalam proses pelaksanaan pembelajaran pendidikan, apapun yang diajarkan guru akan banyak berpengaruh besar pada proses pengembangan pengetahuan dan karakter dari seorang siswa. So… apakah anda tertarik untuk menjadi seorang guru ? jawaban itu tergantung dari hati teman – teman semua, ilmu kita akan bermanfaat apabila kita memberikannya kepada orang lain dengan tulus dan ikhlas.

Akhirnya meskipun belum memutuskan untuk menjadi seorang guru, implikasi dari tawaran menjadi guru itu telah membuat saya mempelajari dan lebih dalam lagi memahami profesi guru itu seperti apa, hatur nuhun Bapak Dadan karena berkat bapak saya lebih tahu akan profesi guru itu seperti apa.

TRIBUT TO MY TEACHER…!

Teruntuk guru – guruku semua yang telah mengajarkan semuanya hingga menjadikanku sampai sekarang ini, penghargaan untuk bapak dan ibu semua, “terima kasih bapak, terima kasih ibu, semua ilmu yang telah bapak ibu berikan sangatlah bermanfaat. Ya Allah jadikanlah mereka semua menjadi orang yang selalu mendapat ridhoMu dan berikanlah selalu mereka kebahagiaan dunia dan akhirat, amin…!”.

All the best untuk guru – guruku semua di SDN Pasarean, SMPN 4 Sumedang, dan di SMKN 1 Sumedang. SEMANGAT….!!

Semoga Jaya untuk pendidikan Indonesia…!

Referensi :

  1. UU No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen;
  2. Permendiknas No.16 tahun 2007 tentang Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru;
  3. PP No.74 Tahun 2008 tentang Guru.

Trip to Kab.Bogor attending HUT PMI ke-66

Always Ready....

Wah… Bogor…..! asyik… akhirnya bisa ke Bogor lagi, memang norak tapi kebetulan aja memang baru 2 kali sama yang yang sekarang tau Kota Bogor, he…! Setelah sebelumnya ke Bogor bareng sama Komandan KSR Pa Utoyo waktu mau lamaran, nah… sekarang kedua kalinya akhirnya bisa ke Bogor juga, ha ha ha…! Mantaps…!

Perjalanan kali ini penulis berangkat ke Kab.Bogor dalam rangka peringatan upacara HUT PMI ke-66 tingkat Nasional di Kab.Bogor pada hari kamis tanggal 29 September 2011 , kita berangkat dari Sumedang bersama temen-temen relawan KSR lainnya sekitar 18 orang ditambah para pengurus, ya… sekitar 25 orang lah kalo dijumlahkan (bener gk y, lupa lgi he…!).

nyubuh yeuh.......!

Ketiduran diperjalanan...

Berangkat dari Sumedang harus sudah kumpul di Markas sekitar jam 3 pagi subuh ( hmmm… bayangin lgi enk tidur kali ya jam segituan ) tapi gimanapun klo yang namanya udah panggilan jiwa susah buat tidak dijalankan betul !. Berangkat dengan menggunakan Bus, pagi itu kita lepas landas dari markas sekitar jam setengah 4an ( ha ha ha…! kyk pesawat aja) menuju Kab. Bogor, selama di dalam bus ngak da yang ngak pake jaket sob, semuanya hampir pake mungkin karna dingin kali ya.

Ceria dan gembira kapan dan dimanapun,

Nah… sekarang kita absen ni satu-satu siapa aja yang berangkat, dari Relawan KSR ada saya, Jejen, Endra, Ujang, Soekarno, Teh Wiwin, Rena, Rohmat, Amir, ditambah lagi dari KSR IKOPIN sekitar 7 orang. Ditambah lagi Pa Utoyo, Pak Dudu (Kepala markas), terus pengurusnya Pa dr.Wan (Wakil  Ketua PMI), Ibu Umi (Sekretaris), Ibu Cucu (Bendahara), Pa Dedi (Pengurus Bid.Bencana), satu lagi Pa Lili Ahdia (Pengurus Bid.Diklat). Banyak juga yang ikut ya, tapi rame banyak juga rame lho….!

Dalam perjalanan kita banyak becanda, sampe akhirnya kita gk kerasa udah nyampe Kab.Bogor sekitar jam setengah 8. Karena acaranya mulai jam 9an alhamdulillah kita gk terlambat datangnya, BOGOR….. Akhirnya…..!!

Suasana tempat upacara berlangsung,

Dilokasi tempat upacara udah banyak banget para peserta upacaranya mulai dari anak PMR sampe Relawan PMI lainnya. Karna tingkat Nasional, upacara kali ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum PMI Pusat yaitu Bapak H.Yusuf Kalla (Mantan Wakil Presiden RI), sungguh  moment yang sangat tidak akan pernah terlupakan bisa bertemu dengan ketua Umum PMI langsung hari itu.

Ketua Umum PMI with Ketua PMI Jabar

Upacara berakhir sekitar jam 11 siang dan alhamdulillah tidak seperti yang dibayangkan sampe sore acaranya, pada saat itu pula kita dari Sumedang langsung berangkat untuk kembali lagi ke Sumedang. Nah.. disini ada kejadian lucu ni, kita kan semuanya udah naik bus semua… kita udah absen satu-satu  udah lengkap, bus pun langsung mau tancap gas keluar dari area upacara dan ternyata…. eh… lupa satu orang lagi ketinggalan, Amir Hamjah namanya, ha ha ha….! di sms gk ada balasan, di telp gk aktif-aktif, ditelp no hp yang satunya lagi nyambung tapi gk diangkat-angkat, tanpa pikir panjang akhirnya saya sama Soekarno nyariin, karena tadi ingatnya kita sebelum pulang kumpul di sekitar mesjig Agung, akhirnya saya pun sama Soekarno nyari dia disekitar sana dan ternyata….. eh……! dy malah ketiduran di mesjid! Ha ha ha…..! ya Allah… gmn klo kita lupa langsung ditinggalin, hmm…..! aya aya wae,

Saatnya Pulang....!!

Begitu udah lengkap semua akhirnya kita pulang ke Sumedang dan sampe ke markas sekitar jam 4an sore, sungguh pengalaman perjalanan yang Sangat menyenangkan plus membawa pengalaman baru untu kita semua. Thank’s to KSR IKOPIN yang udah mau ikut dengan kita dan temen-temen  Relawan KSR Unit Markas Sumedang yang udh sama” berangkat kesana. Mudah”an kebersamaan ini akan selalu kita jaga,

====================================================================

SATU NEGARA

Gaya di depan MObil PMI...,

===============================================================

SATU LAMBANG

F4 lagi nangkring.., ha ha ha...!

===================================================================

SATU GERAKAN

Action for Humanity...~!

Akhirnya……..!   ==> PALANG MERAH UNTUK INDONESIA…

SAlam Kemanusiaan…!!

Pembuatan Aplikasi Pengolahan database Relawan PMI Kab.Sumedang

Gerakan Palang Merah  sebagai organisasi kemanusiaan terbesar didunia mempuyai sebuah misi kemanusiaan yang sangat tinggi dan besar dalam kegiatannya, sudah barang tentu Gerakan ini harus didukung oleh SDM yang handal dan profesional. Pendayagunaan serta pengelolaan SDM Relawan yang tepat menjadi sebuah tuntutan untuk bisa meningkatkan kapasitas organisasi ini, PMI sebagai bagian dari Gerakan Palang Merah termasuk didalamnya.

Dalam menunjang pengelolaan dan pengembangan kapasitas SDM PMI  diperlukan sebuah sistem manajemen relawan yang proporsional untuk mengelolanya. Pengelolaan administrasi SDM Relawan PMI Kabupaten Sumedang dituntut untuk dapat mengelola Relawan PMI yang dimilikinya secara profesional sesuai dengan kapasitas potensi yang dimiliki oleh setiap relawan, baik itu KSR,TSR maupun PMR. Pengolahan data secara  manual akan sangat menghambat sekali dalam proses  pengambilan keputusan pihak manajemen organisasi dalam proses pendayagunaan relawan dilapangan.

Hal inilah yang membuat penulis untuk membuat sebuah solusi bagaimana caranya agar proses pengelolaan SDM Relawan PMI Kabupaten Sumedang ini dapat berjalan dengan baik dan efektif. Akhirnya penulis mencoba dengan membuat sebuah Aplikasi terkomputerisasi yang dapat membantu PMI dalam mengolah data relawan dan PMR yang ada sehingga pengolahan data lebih mudah dilakukan.

Mari Kita coba menganalisis sistem yang ada….,

Aplikasi ini  batasannya adalah  hanya untuk mengelola data Relawan PMI yang tergabung dalam KSR ,TSR dan PMR. Sebagai langkah awal penulis mencoba untuk menganalisis terlebih dahulu  sistem yang sedang berjalan di PMI Kab.Sumedang seperti terlihat dalam gambar dibawah ini,

Sistem yang berjalan di PMI Kab.Sumedang

Gambar diatas merupakan gambaran sistem yang berjalan sekarang di PMI Kab.Sumedang, dimana digambarkan proses dari sistem administrasi Relawan mulai dari pendaftaran hingga ke mobilisasinya.

Setelah penulis analisis, maka sistem baru yang penulis usulkan untuk diterapkan dalam proses pengelolaan dan pengolahan database Relawan yang ada di Markas PMI Kab.Sumedang ini yaitu seperti digambarkan pada gambar dibawah ini.

Gambaran Sistem baru yang diusulkan

dapat dilihat bahwa terdapat beberapa perbedaaan dalam sistem yang penulis usulkan, tetapi semua itu masih ada proses sistem yang masih penulis pakai karena sudah menjadi sebuah ketentuan di organisasi PMI.

—————————————————————————————————————–

PERANCANGAN SISTEM

—————————————————————————————————————–

Ayo kita buat Perancangannya !!

Setelah sistem yang baru diusulkan kita buat, maka langkah selanjutnya adalah merancang alur proses perancangan data dalam sistem pembuatan Aplikasi Pengolahan database Relawan PMI ini, mari kita lihat rancangannya ya… ok!,

1. Kebutuhan Interface

Analisis kebuutuhan interface yang akan digunakan dalam pembuatan aplikasi pengelolaan database Relawan dan PMR PMI Kabupaten Sumedang ini, diantaranya seperti dalam gambar,

Gambar Kebutuhan Interface

2. Gambaran Diagram Kontek

Gambar diagram konteknya seperti terlihat pada gambar  dibawah,

Gambar Diagram Konteks Aplikasi Pengolahan Database Relawan PMI

3. Diagram DFD Level 0

Untuk gambaran DFD ini, akan digambarkan seperti pada gambar yang terdapat dibawah ini,

Diagram DFD level 0 Aplikasi Pengolahan Database Relawan PMI

4. Diagram ERD

Seperti ter;ihat pada gambar, diagram ERD aplikasi ini adalah :

Diagram ERD Aplikasi Database Relawan

—————————————————————————————————————–

IMPLEMENTASI TAMPILAN INTERFACE

—————————————————————————————————————–

Implementasi Aplikasi yang kita rancang..!

Interface yang akan kita buat adalah berdasarkan  kebutuhan user yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan data-data yang diperoleh berdasarkan ketentuan dalam buku pedoman Manajemen Relawan dan PMR terbitan dari Markas PMI Pusat.

Terdapat beberapa tampilan interface yang sengaja penulis tidak tampilkan mengingat keterbatasan tempat posting blog. berikut ini adalah beberapa tampilan interface dari Aplikasi Pengolahan Database Relawan dan PMR PMI Kabupaten Sumedang.

a. Menu dibuat sedemikian rupa agar User ( pengguna) dapat dengan mudah mengoperasikan Aplikasi.

Form untuk Login User

Menu Utama Aplikasi Pengolahan Database Relawan dan PMR

Menu Utama Relawan PMI

——————————————————————————————————————

b. Untuk melihat Tabel data yangtelah diinputkan, maka tampilan interface yang dibuat adalah seperti gambar berikut.

——————————————————————————————————————

Tabel Data Menu KSR

Tabel Data Menu TSR

Tabel Data Menu Anggota PMR Mula

Tabel Data Menu PMR Madya

Tabel Data Menu PMR WIra

Menu Kelompok PMR dan Relawan

——————————————————————————————————————

c. PengInputan data dilakukan dengan mengisi form Input data yang telah dibuat seperti tampak dalam gambar dibawah.

——————————————————————————————————————

Form Input Data Relawan

Form Input Data PMR

Form Input Data Unit KSR

Form Input Data Kelompok PMR

——————————————————————————————————————–

d. Sebagai hasil output pelaporan, maka tampilan interface untuk Menu Laporan Data seperti gambar dibawah,

——————————————————————————————————————–

Menu Pelaporan Data

Output Laporan hasil Pengolahan Database Relawan dan PMR

Demikianlah gambaran dari Aplikasi Pengolahan Databse Relawan dan PMR PMI Kabupaten Sumedang ini dibuat, Harapannya sih… Aplikasi ini dapat digunakan sebagai solusi alternatif yang dapat memberikan sebuah pendukung keputusan dalam pengelolaan administrasi SDM PMI khususnya di PMI Kabupaten Sumedang. So… yang pasti aplikasi ini juga dapat dikembangkan kembali lebih baik lagi sehingga tuntutan perkembangan teknologi dan organisasi bisa terUpdate lebih baik.

Untuk lebih memudahkan kembali dan memahami Aplikasi ini secara detail, silahkan download dokumen laporan Project Work yang telah penulis susun klik disini.

Semangat Terus Relawan PMI dimanapun berada, berbuat dan bertindak demi kemanusiaann adalah suatu hal yang sangat Mulai disisi Allah SWT, semoga kita semua mendapat kekuatan untuk menjalankan misi kemanusiaan Kita,

SAlam Kemanusiaan..!!! Siamo Tutti Frateli..!

thank’s to STMIK Sumedang for your support.

” Kalau kita ingin berhasil maka teruslah untuk belajar dan belajar “

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.