Jurnal Analisis Penelitian

Analisis Penerapan  Unicode dan ASCII sebagai Kata Sandi dengan Menggunakan Teknik  Kriptografi

Oman Somantri  ( A2.0700470 )

Program Studi Teknik Informatika

Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Sumedang

——————————————————————————————————————-

Abstrak

Mengirim pesan dengan aman kepada orang yang ingin kita kirimkan tanpa diketahui oleh orang lain adalah suatu hal yang pasti diinginkan oleh setiap orang. ASCII (American Standard Code for Information Interchange) merupakan suatu standar internasional dalam kode huruf dan simbol seperti Hex dan Unicode tetapi ASCII lebih bersifat universal. Unicode adalah suatu standar industri yang dirancang untuk mengizinkan teks dan simbol dari semua sistem tulisan di dunia untuk ditampilkan dan dimanipulasi secara konsisten oleh komputer. kriptografi adalah ilmu dan seni untuk menjaga kerahasian pesan dengan cara menyandikannya ke dalam bentuk yang tidak dapat dimengerti lagi maknanya. Kata Sandi dengan menerapkan konsep Unicode serta ACSII akan menjadi sebuah konsep yang baru dalam dunia Kriftograf, berbagai penerapan telah diterapkan pada ilmu ini tetapi yang sekarang akan kita lakukan  adalah menyatukan konsep – konsep yang telah ada sebelumnya yang berkaitan dengan Unicode, ASCII dan Kriptografi sebuah sebuah ilmu baru dalam dunia pengkodean karakter.

Kata kunci : Kriptografi, Unicode, Ascii, pengkodean , kata sandi.

———————————————————————————————————————-

1. PENDAHULUAN

1.1   LATAR BELAKANG

Sejak zaman dahulu terlebih pada zaman peperangan, orang mengirimkan pesan dengan kepentingan tertentu berupaya supaya pesan yang dikirimkan tidak diketahui oleh orang lain, salah satunya adalah dengan membuat sebuah kata sandi tulisan yang disandikan dengan kode – kode tertentu sebagai  bagian dari cara untuk menghindari bocornya pesan yang dikirim sehingga dimiliki oleh pihak musuh. Melalui tulisan kata sandi yang dipakai pada setiap pesan yng ditulis, meskipun pesan tersebut direbut oleh pihak musuh tidak akan diketahui isi dari pesan yang ditulis tersebut,hal inilah yang menjadi mengapa begitu pentingnya penerapan kata sandi pada setiap tulisan pesan yang akan kita kirimkan kepada orang lain saat ini terlebih pesan tersebut bersifat rahasia.

Berbagai macam cara orang untuk bisa mengkodekan setiap pesan yang akan dikirim, dimana kata – kata  yang ditulis dikodekan sebagai sandi –sandi tertentu dimana sandi tersebut hanya dapat diketahui oleh Pengirim dan penerima pesan tersebut dengan kata – kata kunci tertentu. Sebagai contohnya pada zaman sekarangpun semenjak dahulu sudah ada beberapa sandi atau kode- kode tertentu yang dipakai oleh setiap orang misalnya saja sandi morse,  tetapi ada juga yang mengkodekan kata  – kata tersebut dengan berupa gerakan – gerakan seperti Sandi Simaphore. Dari sekian banyak sandi yang dibuat ternyata pemakaian sandi ini sangat banyak membantu berbagai pihak sebagai media komunikasi cara lain apabila komunikasi normal tidak bias dilakukan, terkadang karena keterbatasan sinyal maka sering orang berkomunikasi memakai cara – cara sandi morse yang terdiri dari “ titik (.) dan strip (-)” yang dikriptografikan sesuai dengan kesepakatan antar kedua pihak sebelumnya

1.2 RUMUSAN MASALAH

Komputer dengan segala kemampuan yang dimilikinya tidak menutup kemungkinan dapat menciptakan sebuah sandi atau kode –kode baru yang bisa dimanfaatkan oleh setiap orang sesuai dengan manfaat yang akan digunakannya.  Bahasa Unicode dan ASCII yang dimiliki komputer mempunyai kontribusi besar terhadap awal dari cikal bakal penerapan bahasa ini menjadi sebuah sandi tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh setiap orang.  Perkembangan Ilmu Kriptografi dewasa ini sudah banyak dimanfaatkan oleh orang, dengan kata lain ilmu ini dapat diterapkan sebagai pendukung sebuah komputer untuk dapat membuat sebuah Sandi atau Kode tertentu .

Pemanfaatan sandi ini akan menjadi sebuah cara berkomunikasi alternatif bagi setiap orang manakala komunikasi normal sudah tidak dapat dilakukan terlebih dalam keadaaan Emergency atau darurat.  Apabila melihat dari permasalahan yang dihadapi kemudian timbul pertanyaan apakah bisa dengan UNICODE dan ASCII bisa menciptakan sebuah sandi sepertil layaknya sandi morse ataupun sandi – sandi lain yang sudah dikenal oleh kebanyakan orang, yang akan kita analisis adalah bagaimana penerapan UNICODE dan ASCII dengan menggunakan teknik kriptografi dapat menciptakan  sebuah sandi alternaif baru dalam dunia komunikasi.

1.3   METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi yang digunakan dalam analisis penelitian ini adalah :

  1. Studi Pustaka, yaitu peneliti mengumpumpulkan berbagai macam sumber materi referensi yang relevan untuk mendukung penelitian yang dilakukan baik itu buku maupun sumber lain.
  2. Eksperimen, adalah peneliti melakukan beberapa eksperimen berupa perhitungan data – data yang terkait dengan data bahan materi penelitian dengan sebuah software kalkulator.
  3. Langkah awal penelitian yang dilakukan adalah dengan mendefinisikan terlebih dahulu karakter UNICODE dan ASCII kemudian di implementasikan memakai teknik Kriptografi  secara Tteknik subtitusi sehingga nantinya menghasilkan sebuah kata Sandi.

2. KERANGKA PUSTAKA

2.1 UNICODE

Unicode adalah suatu standar untuk melakukan encoding terhadap karakter universal yang sering digunakan  untuk merepresentasikan dan pada proses komputer.  Unicode menyediakan suatu cara yang konsisten untuk melakukan encoding terhadap berbagai bahasa. Tujuan dari adanya standar ini adalah untuk memudahkan para pengguna komputer ketika berhubungan dengan teks yang berasal dari berbagai bahasa.  Selain itu pengguna komputer yang menggunakan berbagai simbol matematis ataupun simbol teknis lainnya, akan sangat dimudahkan dengan penggunaan standar Unicode.

Unicode adalah suatu standar industri yang dirancang untuk mengizinkan teks dan simbol dari semua sistem tulisan di dunia untuk ditampilkan dan dimanipulasi secara konsisten oleh komputer. Dikembangkan secara tandem dengan standar Universal Character Set dan dipublikasikan dalam bentuk buku The Unicode Standard, Unicode mengandung suatu kumpulan karakter, suatu metodologi pengkodean dan kumpulan standar penyandian karakter, suatu kumpulan bagan kode untuk referensi visual, deskripsi sifat karakter seperti huruf besar dan huruf kecil, suatu kumpulan data referensi berkas komputer, serta aturan normalisasi, dekomposisi, pembandingan (collation), serta penggambaran (rendering).

Unicode Consortium, suatu organisasi nirlaba yang mengkoordinasikan pengembangan Unicode memiliki tujuan ambisius untuk dapat menggantikan skema pengkodean karakter yang ada dengan Unicode dan skema Unicode Transformation Format (UTF) nya, karena banyak skema yang ada sekarang memiliki keterbatasan ukuran dan lingkup dengan lingkungan multibahasa. Kesuksesan Unicode menyatukan set karakter telah membawa pada penggunaannya yang luas dan pradominan dalam internasionalisasi dan lokalisasi perangkat lunak komputer. Standar ini telah diterapkan pada teknologi-teknologi terkini, termasuk XML, bahasa pemrograman Java, dan sistem operasi modern.

2.2 ASCII

Kode Standar Amerika untuk Pertukaran Informasi atau ASCII (American Standard Code for Information Interchange) merupakan suatu standar internasional dalam kode huruf dan simbol seperti Hex dan Unicode tetapi ASCII lebih bersifat universal, contohnya 124 adalah untuk karakter “|”. Ia selalu digunakan oleh komputer dan alat komunikasi lain untuk menunjukkan teks. Kode ASCII sebenarnya memiliki komposisi bilangan biner sebanyak 8 bit. Dimulai dari 0000 0000 hingga 1111 1111. Total kombinasi yang dihasilkan sebanyak 256, dimulai dari kode 0 hingga 255 dalam sistem bilangan desimal.

2.3 KRIPTOGRAFI

Kriptografi (cryptography) berasal dari Bahasa Yunani: “cryptós” artinya “secret” (rahasia), sedangkan “gráphein” artinya “writing” (tulisan). Jadi, kriptografi berarti “secret writing” (tulisan rahasia). Ada beberapa definisi kriptografi yang telah dikemukakan di dalam berbagai literatur. Definisi yang dipakai di dalam buku-buku yang lama (sebelum tahun 1980-an) menyatakan bahwa kriptografi adalah ilmu dan seni untuk menjaga kerahasiaan pesan dengan cara menyandikannya ke dalam bentuk yang tidak dapat dimengerti lagi maknanya. Definisi ini mungkin cocok pada masa lalu di mana kriptografi digunakan untuk keamanan komunikasi penting seperti komunikasi di kalangan militer, diplomat, dan mata-mata. Namun saat ini kriptografi lebih dari sekadar privacy, tetap juga untuk tujuan data integrity, authentication, dan non-repudiation.

Di dalam kriptografi kita akan sering menemukan berbagai istilah atau terminologi. Beberapa istilah yang penting untuk diketahui diberikan di bawah ini.

(a)   Pesan, Plainteks, dan Cipherteks

Pesan (message) adalah data atau informasi yang dapat dibaca dan dimengerti maknanya. Nama lain untuk pesan adalah plainteks (plaintext) atau teks-jelas (cleartext). Pesan dapat berupa data atau informasi yang dikirim (melalui kurir, saluran telekomunikasi, dsb) atau yang disimpan di dalam media perekaman (kertas, storage, dsb). Pesan yang tersimpan tidak hanya berupa teks, tetapi juga dapat berbentuk citra (image), suara/bunyi (audio), dan video, atau berkas biner lainnya. Agar pesan tidak dapat dimengerti maknanya oleh pihak lain, maka pesan perlu disandikan ke bentuk lain yang tidak dapat dipahami. Bentuk pesan yang tersandi disebut cipherteks (ciphertext) atau kriptogram (cryptogram). Cipherteks harus dapat ditransformasikan kembali menjadi plainteks semula agar pesan yang diterima bias dibaca.

Gambar 1 memperlihatkan contoh-contoh dua buah plainteks, masingmasing berupa teks dan gambar, serta cipherteks yang berkoresponden. Perhatikan bahwa plainteks dapat dibaca dengan jelas, tetapi cipherteks sudah tidak dapat lagi dimengerti maknanya. Melalui proses yang berkebalikan, cipherteks dapat ditransformasikan kembali menjadi plainteks semula.

Gbr.1 : contoh-contoh dua buah plainteks

(b)    Pengirim dan penerima

Komunikasi data melibatkan pertukaran pesan antara dua entitas. Pengirim (sender) adalah entitas yang mengirim pesan kepada entitas lainnya. Penerima (receiver) adalah entitas yang menerima pesan. Entitas di sini dapat berupa orang, mesin (komputer), kartu kredit, dan sebagainya. Jadi, orang bisa bertukar pesan dengan orang lainnya (contoh: Alice berkomunikasi dengan Bob), sedangkan di dalam jaringan komputer mesin (komputer) berkomunikasi dengan mesin (contoh: mesin ATM berkomunikasi dengan komputer server di bank). Pengirim tentu menginginkan pesan dapat dikirim secara aman, yaitu ia yakin bahwa pihak lain tidak dapat membaca isi pesan yang ia kirim. Solusinya adalah dengan cara menyandikan pesan menjadi cipherteks.

(c)   Enkripsi dan dekripsi

Proses menyandikan plainteks menjadi cipherteks disebut enkripsi (encryption) atau enciphering (standard nama menurut ISO 7498-2). Sedangkan proses mengembalikan cipherteks menjadi plainteks semula dinamakan dekripsi (decryption) atau deciphering (standard nama menurut ISO 7498-2). Enkripsi dan dekripsi dapat diterapkan baik pada pesan yang dikirim maupun pada pesan tersimpan. Istilah encryption of data in motion mengacu pada enkripsi pesan yang ditransmisikan melalui saluran komunikasi, sedangkan istilah enrypton of data at-rest mengacu pada enkripsi dokumen yang disimpan di dalam storage. Contoh encryption of data in motion adalah pengiriman nomor PIN dari mesin ATM ke komputer server di kantor bank pusat. Contoh encryption of data at-rest adalah enkripsi file basis data di dalam hard disk.

(d)   Cipher dan kunci

Algoritma kriptografi disebut juga cipher yaitu aturan untuk enchipering dan dechipering, atau fungsi matematika yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi. Beberapa cipher memerlukan algoritma yang berbeda untuk enciphering dan deciphering. Konsep matematis yang mendasari algoritma kriptografi adalah relasi antara dua buah himpunan yaitu himpunan yang berisi elemen-elemen plainteks dan himpunan yang berisi cipherteks.

Enkripsi dan dekripsi merupakan fungsi yang memetakan elemen – elemen antara kedua himpunan tersebut. Misalkan P menyatakan plainteks dan dan C menyatakan chiperteks, maka fungsi enkripsi E memetakan P ke C,

E(P) = C

Dan fungsi dekripsi D memetakan C ke P,

D(C) = P

Karena proses enkripsi kemudian dekripsi mengembalikan pesan ke pesan asal, maka kesamaan berikut harus benar,

D(E(P)) = P

Kriptografi modern mengatasi masalah di atas dengan penggunaan kunci, yang dalam hal ini algoritma tidak lagi dirahasiakan, tetapi kunci harus dijaga kerahasiaannya. Kunci (key) adalah parameter yang digunakan untuk transformasi enciphering dan dechipering. Kunci biasanya berupa string atau deretan bilangan. Dengan menggunakan kunci K, maka fungsi enkripsi dan dekripsi dapat ditulis sebagai berikut :

EK(P) = C dan DK(C) = P

dan kedua fungsi ini memenuhi

DK(EK(P)) = P

Gambar 2(a)  memperlihatkan skema enkripsi dan dekripsi dengan menggunakan kunci, sedangkan Gambar 2(b) mengilustrasikan enkripsi dan dekripsi terhadap sebuah pesan.

Gbr.2 : Skema dasar Kriptografi

Suatu pesan yang tidak disandikan disebut sebagai plaintext ataupun dapat disebut juga sebagai cleartext. Pemroses yang digunakan untuk mengubah plaintext ke dalam ciphertext inilah yang dinamakan enkripsi. Sedangkan proses untuk mengubah ciphertext kembali menjadi plaintext disebut dekripsi.

3. PEMBAHASAN DAN HASIL ANALISIS

3.1  PEMBAHASAN

Encoding karakter pada Unicode dan ASCII merupakan satu hal sudah ada dalam ketentuan dimana Unicode dan ASCII merepresentasikan berbagai karakter dan simbol- simbol agar dapat dikenali  dan diterapkan oleh komputer sebagai suatu simbol dan  karakter. Dengan konsep ketentuan yang telah ada baik itu Unicode dan ASCII ataupun Kriptografi sebagai suatu ilmu dalam bidang komputer  yang dibuat untuk menjaga kerahasian pesan dengan cara menyandikannya ke dalam bentuk yang tidak dapat dimengerti lagi maknanya baik itu karakter atau simbol – simbol.

Penerapan Unicode dan ASCII dengan menggunakan teknik Kriptografi merupakan hal yang baru utnuk ditelaah lebih jauh, karena yang ada sekarang hanyalah setiap Karakter simbol ini khususnya Unicode dan ASCII menerapkan fungsinya secara masing – masing, tetapi dalam hal ini akan dikolaborasikann dengan suatu ilmu yang telah ada yaitu ilmu Kriptografi, dengan analisis yang akan dilakukan tentunya akan menghasilkan suatu telaah baru dalam bidang encoding karakter dan penyandian Karakter serta simbol.

3.1.1 PENERAPAN UNICODE

Dalam Unicode saat ini trdapat empat teknik encoding yang mungkin dilakukan, keempat encoding ini memungkinkan refresentasi  karakter hingga 232 . Jumlah ini cukup untuk melakukan encoding terhadap seluruh karakter yang telah ada termasuk didalamnya karakter – karakter dalam sejarah, dan berbagai simbol yang ada. Ketiga teknik encoding ini adalah UTF-8, UTF-16 dan UTF-32. Perlu diingat bahwa Unicode ini tidak membatasi encoding hanya pada UTF-32 tetapi apabila diperlukan maka dapat disusun model encoding dengan menggunakan jumlah bit yang lebih banyak , misalnya UTF-64.

Sebagai contoh akan kita encoding berupa kata string, yaitu : “ Oman “ maka akan dihasilkan (dalam basis Hexadesimal ) per byte adalah :

Karakter               : Oman

Code Point          : U+004F  U+006D   U+0061   U+006E

UTF-8                    : 4F  6D  61  6E

UTF-16                  : 00 4F  00  6D   00 61  00  6E

UTF-32                  : 00 00 4F  00  00 6D   00 00 61  00 00  6E

3.1.2 PENERAPAN ASCII

Kode Standar Amerika untuk Pertukaran Informasi atau ASCII (American Standard Code for Information Interchange) merupakan suatu standar internasional dalam kode huruf dan simbol seperti Hex dan Unicode tetapi ASCII lebih bersifat universal, contohnya 124 adalah untuk karakter “|”. Ia selalu digunakan oleh komputer dan alat komunikasi lain untuk menunjukkan teks. Kode ASCII sebenarnya memiliki komposisi bilangan biner sebanyak 8 bit. Dimulai dari 0000 0000 hingga 1111 1111. Total kombinasi yang dihasilkan sebanyak 256, dimulai dari kode 0 hingga 255 dalam sistem bilangan Desimal., sebagai contoh karakter “A” menjadi 65, spasi menjadi 31, dan seterusnya.

Untuk lebih memahaminya sebagai contoh akan dimasukan karakter string “ Somantri ”, maka akan dihasilkan :

Karakter        :  Somantri

Code Point                    :  83 111 109 97 110 116 114 105

BIner                :  1010011 1101111 1101101 1100001 1101110 1110100 1110010 1101001

3.1.3 TEKNIK  KRIPTOGRAFI

Berbagai macam Teknik yang digunakan dalam Kriptografi, salah satu diantaranya adalah :

  1. Teknik Subtitusi dimana Langkah pertama adalah membuat suatu tabel substitusi. Tabel substitusi dapat dibuat sesuka hati, dengan catatan bahwa penerima pesan memiliki tabel yang sama untuk keperluan dekripsi. Bila tabel substitusi dibuat secara acak, akan semakin sulit pemecahan ciphertext oleh orang yang tidak berhak.
  2. Teknik yang kedua adalah Blocking adalah membagi plaintext menjadi blok-blok yang terdiri dari beberapa karakter yang kemudian dienkripsikan secara independen.
  3. Teknik permutasi atau sering juga disebut transposisi, Teknik ini memindahkan atau merotasikan karakter dengan aturan tertentu. Prinsipnya adalah berlawanan dengan teknik substitusi. Dalam Teknik substitusi, karakter berada pada posisi yang tetap tapi identitasnya yang diacak. Pada teknik permutasi, identitas karakternya tetap, namun posisinya yang diacak. Sebelum dilakukan permutasi, umumnya plaintext terlebih dahulu dibagi menjadi blok-blok dengan panjang yang sama.
  4. Teknik Ekspansi adalah Suatu metode sederhana untuk mengacak pesan adalah dengan memelarkan pesan itu dengan aturan tertentu. Salah satu contoh penggunaan teknik ini adalah dengan meletakkan huruf konsonan atau bilangan ganjil yang menjadi awal dari suatu kata di akhir kata itu dan menambahkan akhiran “an”

Untuk Penerapan Teknik Kriptografi ini akan memakai Teknik Subtitusi, adapun ketentuan tabel Subtitusi yang akan dipakai adalah :

Gbr.3 : Tabel Subtitusi

Kemudian akan dimasukan beberapa karakter string, contohnya saja “ OMAN ADALAH MAHASISWA STMIK “, maka hasil dari penyandian tersebut adalah :

Karakter ( plaintext )      :  OMAN ADALAH MAHASISWA STMIK

Hasil ( ciphertext )              :  2YBD BKBHBT YBTBVPV4B V7YPK

3.2 HASIL ANALISIS

3.2.1 Tahap Persiapan

Untuk membuat sebuah  Sandi yang berbasiskan Unicode dan ASCII terlebih dahulu harus dibuat sebuah tabel yang akan menjadi patokan penyandian karakter – karakter yang akan kita sandikan. Berdasarkan rumusan dan batasan permasalahan dalan penelitian ini bahwa Teknik Kriptografi yang akan dipakai adalah Teknik Subtitusi dimana Langkah pertama adalah terlebih dahulu membuat suatu tabel substitusi.

Tabel Subtitusi yang akan kita buat dalam menerapkan Unicode dan ASCII pada Kriptografi disini kita menjadikan bahwa tabel Subtitusi tersebut sesuai dengan fungsi encoding yang ada pada Unicode dan ASCII adalah sebuah tabel ASCII dan Unicode, dari semua encoding yang ada diambil beberapa kode yang akan kita gunakan sebagai tabel subtitusi.. Adapun Tabel  Kriptografi Subtitusi tersebut seperti gambar tabel berikut ini .

Gbr.4  : Tabel Subtitusi Unicode dan ASCII

Dengan menerapkan konsep Kriptografi menggunakan teknik Subtitusi maka gambaran umum pada saat Karakter Unicode dan ACSII  dijadikan sebuah tabel sandi akan diperoleh seperti gambar.

Gbr.5  : Gambaran umum Karakter Unicode dan ACSII pada Kriptografi

3.2.2 Tahap Pembuatan Sandi

Setelah tabel Subtitusi dibuat sebagai tahap awal dari pembuatan sandi, maka tahapan selanjutnya adalah menerapkan tabel tersebut untuk mencoba membuat sandi yang akan digunakan untuk mengirimkan pesan kepada orang  yang akan kita kirimkan pesan. Perlu diingat bahwa tabel subtitusi ini sebelumnya antara pemberi dan penerima pesan harus sudah sepakat mengenai tabel tersebut sehingga pada saat enkripsi karakter yang ditulis bisa diterjemahkan sesuai dengan isi pesan yang disampaikan.

3.2.2.1 Sandi Unicode

Untuk mencoba mengirimkan pesan sebagai contoh akan dikirimkan berupa pesan yang isinya atau ciphertext –nya kira – kira adalah “ Dosen Pembimbing Workshop saya adalah Bapak Asep Rahmat “, maka kata Sandi yang akan dikirimkan kepada oarng yang akan menerima pesan adalah :

Ciphertext                         :

“ Dosen Pembimbing Workshop saya adalah Bapak Asep Rahmat “

Maka di dekripsikan berdasarkan tabel Subtitusi menghasilkan kata sandi :

Plaintext                            :

44 6F 73 65 6E   20   50 65 6D 62 69 6D 62 69 6E 67   20   57 6F 72 6B 73 68 6F 70   20   73 61 79 61   20   61 64 61 6C 61 68   20   42 61 70 61 6B   20   41 61 70 62 6B    20   41 73 65 70   20   52 61 68 6D 61 74

3.2.2.2 Sandi ASCII

Contoh Kata Sandi ASCII yang dirimkan adalah seperti dibawah ini,  maka isi pesan yang dimaksudkan dalam kata sandi tersebut adalah :

Plaintext            : 77 111 104 111 110  32  109 97 97 102  32  106 97 114 97 110 103  32  98 105 109 98 105 110 103 97 110  32  119 111 114 107 115  104 111 112.

Setelah di Enkripsi maka isi pesannya adalah :

Ciphertext                        :  “  Mohon maaf jarang bimbingan workshop “

3.2.2.3  Sandi Gabungan

Penerapan sandi ini adalah manakala kita ingin mengirimkan pesan ( plaintext ) suatu karakter berbentuk Unicode kepada penerima, penerima mengetahui maksud dari isi pesan yang disampaikan sesuai dengan tabel subtitusi yang ada dengan kata lain isinya (Ciphertext) bisa di Dekripsikan kedalam karakter text biasa, akan tetapi dalam hal ini penerima pesan akan menerima pesan karakter berbentuk ASCII. Sandi ini bisa diterapkan dalam sebuah system keamanan pesan dimana kita mengirimkan pesan dengan karakter kode tertentu tetapi nantinya penerima akan menerima pesan karakternya sandinya dengan kode lain berbeda dengan kode pengirim pesan tetapi isi pesan yang dikirmkan dimengerti oleh penerima.

Sebagai contoh akan dikirimkan pesan dengan bentuk Sandi Unicode kepada penerima pesan dan isi sandi tersebut adalah :

48 61 72 6170 61 6E  20  73 61 79 61  20  6E 69 6C 61 59  20  77 6F 72 6B 72 68 6F 70   20  64 61 70 61 74  20  41

Maka penerima akan menerima pesan berbentuk Sandi ASCII,

72 97 114 97 112 97 110  32  115 97 121 79  32  110 105 108 97 105  32  119 111 114 107 115 104 111 112  32  100 79 112 97 116  32  65

Maksud dari Sandi tersebut adalah sebagai berikut :

“  Harapan saya nilai workshop dapat A

3.2.3 Tahap Uji Coba

Tahapan ini adalah cara lain dalam pengujicobaan terhadap Sandi yang memiliki karakteristik seperti Sandi Gabungan, untuk memastikan apakah tabel subtitusi tersebut tidak salah dengan kode – kode yang telah disandikan. Untuk mengujinya memakai kalkulator yang mempunyai fasilitas bilangan minimal decimal dan hexadecimal, untuk pengujian ini menggunakan kalkulator yang berada pada komputer terinclude dalam assecoris Sistem Operasi Windows.

Sebagai tahap analisis awal akan kita ujikan apakah bilangan Unicode dengan nilai 48 ini akan sama dengan nilai 72 pada ASCII, kita akan buktikan. Kita masukan nilai angka 48 pada kalkulator dengan posisi nilai hexadecimal seperti terlihat digambar.

Gbr.6 : Tampilan Kalkulator awal uji coba nilai Unicode

Maka apabila kita konversi kedalam decimal (ASCII ) akan berubah nilainya menjadi 72 seperti pada gambar.

Gbr.7 : Tampilan  Akhir kalkulator uji Coba nilai ASCII

Dengan sedikit ujicoba yang kita lakukan maka meskipun kita lupa akan kode sandi salah satu karakter nilai Unicode atau ASCII maka dengan simulasi yang telah dilakukan diatas kita akan mengetahui Kode Sandinya, meskipun untuk karakter pesan yang dikirim tidak bisa diketahui.

4.   KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan maka secara garis besar dapat diambil beberapa kesimpulan diantaranya :

  1. Penerapan Sistem pengkodean kata Sandi dengan memakai Unicode dan ASCII                merupakan terobosan yang sangat berguna bagi setiap orang, dimana Sandi ini dapat dijadikan sebagai sandi alternative dalam system Sandi yang sering digunakan orang selama ini seperti sandi morse. Diharapkan dengan adanya sandi ini dapat memberikan solusi yang lebih bervariatif dalam memutuskan media komunikasi apa yang digunakan apabila mengalami suatu kebuntuan komunikasi.
  2. Teknik Kriptografi merupakan pondasi awal untuk memberikan kenyaman dan keamanan bagi orang untuk berkomunikasi agar dapat menyembunyikan kerahasiaan dari informasi yang disampaikan khususnya melalui media  tulisan,disamping itu dengan metoda yang ada hal tersebut ternyata juga dapat dimanfaatkan oleh orang dalam berkomunikasi apabila dalam keadaaan darurat.
  3. Dengan menggunakan metoda kriptografi setiap apapun yang berkaitan dengan pengkodean sebuah simbol atau karakter pasi akan bisa dibentuk, terlebih banyak Teknik kriptografi yang bisa digunakan dalam pembuatannya.

4.2  SARAN

Adapun saran – saran yang ingin disampaikan penulis setelah melakukan analisis ini diantaranya adalah :

  1. Untuk keamanan data isi informasi yang akan dikirmkan oleh pengirim pesan, sebaiknya menggunakan teknik kriptografi yang jarang orang untuk menggunakannya, serta untuk selalu di update penyandiannya supaya tambah safety informasi yang akan kita kirimkan nantinya.
  2. Untuk pengembangan selanjutnya setelah analisis ini diharapkan kepada yang berkepentingan untuk terus mengembangkan penelitian yang telah dilakukan ini, masih banyak sekali penerapan – penerapan lain yang bisa dikembangkan dengan Unicode dan ASCII ini.
  3. Uji coba terhadap analisis penelitian yang telah dilakukan sebisa mungkin untuk menggunakan beberapa laat uji yang mendukung penelitian tersebut, hal ini dilakukan agar penelitian tersebut lebih kuat penelitian secara ilmiahnya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Rinaldi_M ( 2006), “ Kriptografi”, Materi Kuliah Kriptografi, ITS Surabaya.
  2. Adhytia (2008), “Makalah Caracter Encoding ”, Program Studi Teknik Informatika, Universitas Teknologi Surabaya.
  3. 3. Iqbal, Mohammad (mohiqbal@softhome.net), Diktat Kuliah Keamanan Komputer, Maret 2002;
  4. Faisal Saleh ( 2005), “ Penerapan Kriptografi”, Skripsi Fakultas Teknologi Indonesia.
  5. http:// Id.wikipedia.org/wiki/Unicode, “ Unicode 5.2”, 2010.
  6. http:// Id.wikipedia.org/wiki/Ascii, “ Ascii”, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: